Ada kalanya menjadi bagus mengungkit suatu kenikmatan, yaitu ketika
kenikmatan itu dikufuri. Setiap nikmat mempunyai pembuka dan penutup,
pembukanya adalah kesabaran dan penutupnya adalah kemalasan. Tidak ada
kenikmatan didunia ini yang lebih besar daripada panjang umur lagi
takwa. (Ali bin Abi Thalib r.a)
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon
(pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya), kemudian
apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan
kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk
(menghilangkannya) sebelum itu [39:Az Zumar:8]
Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya
diri sendiri mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain
daripada Allah dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu [03:Al Imran:135]
Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas [39:Az Zumar:10]
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada
orang-orang yang sabar dan tidak dianugrahkan melainkan kepada
orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar [41:Fushshilat:35]
Lemparkanlah olehmu berdua kedalam Neraka semua orang yang sangat
ingkar dan keras kepala, (*)yang sangat enggan melakukan kebajikan [50:Qaaf:24~25]
Zakariya berkata: `Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku,
padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri)
sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua`. (*)Tuhan berfirman:
`Demikianlah`. Tuhan berfirman: `Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan
sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (diwaktu
itu) belum ada sama sekali` [19:Maryam:8~9]
Rasulullah Saw bersabda: Menyebut-nyebut nikmat
Allah merupakan perbuatan syukur dan meninggalkannya berarti kufur
(ingkar kepada nikmat Allah). Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat
yang sedikit, maka ia tidak pula akan mensyukuri nikmat yang banyak.
Barangsiapa tidak berterima kasih pada orang lain, berarti ia tidak akan
pula berterima kasih pada Allah SWT [HR. Baihaqi]
Rasulullah Saw bersabda: Memuji Allah karena mendapatkan suatu nikmat merupakan jaminan keamanan dari lenyapnya nikmat tersebut [HR. Ad Dailami]
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya hanya
Allah-lah yang berhak mengambil dan hanya Dia-lah yang berhak memberi,
segala sesuatu telah digariskan ketentuannya disisi-Nya, maka
bersabarlah dan harapkanlah pahala-Nya [HR. Ibnu Majah]
Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang berpuas hati
dengan apa yang ada maka Allah mencukupkannya. Siapa yang bersabar maka
Allah akan menganugrahkan kesabaran. Seseorang itu tidak dikaruniakan
sesuatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas selain oleh sabar [HR.
Bukhari, Muslim]
Rasulullah Saw bersabda: Hal yang paling aku
takutkan atas umat-ku adalah perut besar (banyak makan), banyak tidur,
malas dan lemah keyakinannya [HR. Ad Duruquthni]
Rasulullah Saw bersabda: Sebaik-baik manusia adalah
orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, dan sejahat-jahat manusia
adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya [HR. Ahmad]
Rasulullah Saw bersabda: Tercatat dalam Kitab
Taurat: Barangsiapa menghendaki diperpanjang umurnya, dan ditambah terus
rezekinya, maka hendaknya ia menghubungkan silaturahmi [HR. Al Hakim]
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya kebahagiaan yang mencakup semua kebahagiaan adalah umur panjang lagi taat kepada Allah [HR. Al Khatib] .
Kebahagiaan itu hanya dapat dicapai dan dinikmati oleh orang yang
mengikuti satu sisi dari Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus), sebagai
peninggalan Rasulullah Saw untuk umatnya, karena sisi yang satunya
adalah surga. `Dan pasti kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus`(04:an Nisaa’:68).
Kebahagiaan orang yang senatiasa berjalan diatas Shirathal Mustaqim
adalah bahwa dia selalu merasa tenang dengan akhir yang baik dari setiap
permasalahan yang dihadapinya, merasa yakin bahwa tempat kembalinya
adalah tempat yang baik, percaya sepenuhnya terhadap janji Rabb-nya,
rela dengan qadha-Nya, dan mengendalikan langkahnya untuk tetap dijalan
itu. Dan menyadari bahwa orang yang menunjukkan jalan ini adalah
seorang yang tidak berbicara berdasarkan nafsu, yang ucapannya adalah
hujjah, yang terjaga dari keusilan setan dan keteledoran manusia.
`Bagi manusia ada Malaikat-Malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah
Allah`(13:Ar Ra’d:11). Dalam
penitiannya diatas jalan ini, hamba akan mendapatkan kebahagiaan. Dia
tahu bahwa dirinya memiliki Ilah, didepannya ada suri tauladan,
ditangannya ada kitab suci, didalam hatinya ada cahaya kebenaran, dan
didalam nuraninya ada pemberi nasehat. Dengan demikian ia menjadi sosok
yang berjalan menuju kenikmatan, yang berbuat dalam ketaatan, dan yang
berusaha ke arah kebaikan.
Jalan keimanan adalah jalan yang ada di dunia fana yang memiliki
cakar-cakar pencengkeram berupa syahwat. Sedang jalan ukhrawi yang
berada diatas jahannam, memiliki duri-duri yang sangat tajam. Dan
barangsiapa mampu melampaui jalan ini dengan keimanannya, dia akan mampu
melampaui jalan ukhrawi sesuai dengan keyakiannya. Dan jika seorang
hamba berhasil mendapatkan hidayah jalan yang lurus ini maka akan lenyap
semua kesulitan, kekecewaan dan duka citanya. (`Aidh Al-Qarni)
Keuntungan yang hakiki adalah keuntungan yang tidak hanya
menguntungkan diri sendiri, tetapi juga menguntungkan hamba-hamba Allah
lainnya. Dan usahankanlah apa yang menjadi nikmat kita, tidak menjadi
musibah bagi orang lain. (`Pustaka)
Jadikan ketaatan dan pujian kepada Allah sebagai kewajiban dan jika
hal ini dilakukan tanpa mengalami kesulitan apa-apa. Maka dunia menjadi
berkah bagi mereka dan memberikan nikmat kepada mereka. Dan apabila
mereka melihat dan mengalami sesuatu, maka yang mereka lihat dan alami
sebagai perbuatan Allah. Maka Allah menjadikan mereka `Pasak Bumi`,
yaitu seperti gunung yang berdiri megah dan agung diantara hamba-hamba
Allah lainnya. (`Pustaka)
Manusia selalu berbohong dengan membicarakan kesyukuran tetapi tidak
melaksanakan kesyukuran dan manusia selalu membicarakan cobaan, tetapi
tidak mensyukuri cobaan dari Allah, maka Allah SWT berfirman: `Dan
dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu
mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah
dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan
sangat mengingkari nikmat Allah`. (`Pustaka)
Apabila kehilangan kenikmatan dunia harus rela dan menyerah terhadap
hukum-hukum Allah, kemudian apabila dihinakan orang bertahanlah didalam
kesabaran, dengan demikian seharusnya terasa ringan cobaan yang menimpa,
karena menyadari bahwa Allah-lah yang menguji, maka bukalah pintu
kesadaran dan pengertian bahwa Allah sedang memberi pengajaran bagaimana
menetapkan sebaik-baik pilihan takdir kepada hamba-Nya. (`Pustaka)












Tidak ada komentar:
Posting Komentar