We are an award winning digital agency. And truly awesome too.

They walked carefully through the china country. The little animals and all the people scampered out of their way, fearing the strangers would break them, and after an hour or so the travellers reached the other side of the country and came to another wall.



The greatest education in the world is watching the masters at work.

- Michael Jackson

Tomorrow is my exam, but I don't care. Bcoz a single sheet of paper can't decide my future.

- Thomas Edison

If you can't make it good, at least make it look good.

- Bill Gates

Most good programmers do programming not because they expect to get paid or get adulation by the public, but because it is fun to program.

- Linus Torvald

An eye for an eye only ends up making the whole world blind.

- Quote Author (Quote #5)

We provide a multitude of services. Everything is covered.

They walked carefully through the china country. The little animals and all the people scampered out of their way, fearing the strangers would break them, and after an hour or so the travellers reached the other side of the country and came to another wall.

Blog

Senin, 25 November 2013

Pakaian yang Mesti Engkau Pakai

Betapa banyak kita lihat saat ini, wanita-wanita berbusana muslimah, namun masih dalam keadaan ketat. Sungguh kadang hati terasa perih. Apa bedanya penampilan mereka yang berkerudung dengan penampilan wanita lain yang tidak berkerudung jika sama-sama ketatnya[?]
Oleh karena itu, pembahasan kita saat ini adalah mengenai pakaian wanita muslimah yang seharusnya mereka pakai. Pembahasan kali ini adalah lanjutan dari pembahasan "Wanita yangBerpakaian Tetapi Telanjang". Semoga bermanfaat. Hanya Allah lah yang dapat memberi taufik dan hidayah. 

Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.
Dari tafsiran yang shohih ini terlihat bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah mustahab (dianjurkan). (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14)

Syarat Pakaian Wanita yang Harus Diperhatikan
Pakaian wanita yang benar dan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya memiliki syarat-syarat. Jadi belum tentu setiap pakaian yang dikatakan sebagai pakaian muslimah atau dijual di toko muslimah dapat kita sebut sebagai pakaian yang syar’i. Semua pakaian tadi harus kita kembalikan pada syarat-syarat pakaian muslimah.
Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat ini dan ini semua tidak menunjukkan bahwa pakaian yang memenuhi syarat seperti ini adalah pakaian golongan atau aliran tertentu. Tidak sama sekali. Semua syarat pakaian wanita ini adalah syarat yang berasal dari Al Qur’an dan hadits yang shohih, bukan pemahaman golongan atau aliran tertentu. Kami mohon jangan disalah pahami.
Ulama yang merinci syarat ini dan sangat bagus penjelasannya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah –ulama pakar hadits abad ini-. Lalu ada ulama yang melengkapi syarat yang beliau sampaikan yaitu Syaikh Amru Abdul Mun’im hafizhohullah. Ingat sekali lagi, syarat yang para ulama sebutkan bukan mereka karang-karang sendiri. Namun semua yang mereka sampaikan berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shohih.

Syarat pertama: pakaian wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ingat, selain kedua anggota tubuh ini wajib ditutupi termasuk juga telapak kaki.

Syarat kedua: bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik! Yang terkahir ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki.
Ingatlah, bahwa maksud perintah untuk mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita malah menjadi pakaian untuk berhias sebagaimana yang sering kita temukan.

Syarat ketiga: pakaian tersebut tidak tipis dan tidak tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh. Pakaian muslimah juga harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Dalam sebuah hadits shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim)
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, 125-126)
Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.

Syarat keempat: tidak diberi wewangian atau parfum.
Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah wanita pezina.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih). Lihatlah ancaman yang keras ini!

Syarat kelima: tidak boleh menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
لَعَنَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)
Sungguh meremukkan hati kita, bagaimana kaum wanita masa kini berbondong-bondong merampas sekian banyak jenis pakaian pria. Hampir tidak ada jenis pakaian pria satu pun kecuali wanita bebas-bebas saja memakainya, sehingga terkadang seseorang tak mampu membedakan lagi, mana yang pria dan wanita dikarenakan mengenakan celana panjang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Betapa sedih hati ini melihat kaum hawa sekarang ini begitu antusias menggandrungi mode-mode busana barat baik melalui majalah, televisi, dan foto-foto tata rias para artis dan bintang film. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Syarat keenam: bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas (baca: pakaian syuhroh).
Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِى الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا
Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Pakaian syuhroh di sini bisa bentuknya adalah pakaian yang paling mewah atau pakaian yang paling kere atau kumuh sehingga terlihat sebagai orang yang zuhud. Kadang pula maksud pakaian syuhroh adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai di negeri tersebut dan tidak digunakan di zaman itu. Semua pakaian syuhroh seperti ini terlarang.

Syarat ketujuh: pakaian tersebut terbebas dari salib.
Dari Diqroh Ummu Abdirrahman bin Udzainah, dia berkata,
كُنَّا نَطُوفُ بِالْبَيْتِ مَعَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَرَأَتْ عَلَى امْرَأَةٍ بُرْداً فِيهِ تَصْلِيبٌ فَقَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ اطْرَحِيهِ اطْرَحِيهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى نَحْوَ هَذَا قَضَبَهُ
“Dulu kami pernah berthowaf di Ka’bah bersama Ummul Mukminin (Aisyah), lalu beliau melihat wanita yang mengenakan burdah yang terdapat salib. Ummul Mukminin lantas mengatakan, “Lepaskanlah salib tersebut. Lepaskanlah salib tersebut. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat semacam itu, beliau menghilangkannya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Ibnu Muflih dalam Al Adabusy Syar’iyyah mengatakan, “Salib di pakaian dan lainnya adalah sesuatu yang terlarang. Ibnu Hamdan memaksudkan bahwa hukumnya haram.”

Syarat kedelapan: pakaian tersebut tidak terdapat gambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan).
Gambar makhluk juga termasuk perhiasan. Jadi, hal ini sudah termasuk dalam larangan bertabaruj sebagaimana yang disebutkan dalam syarat kedua di atas. Ada pula dalil lain yang mendukung hal ini.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahku, lalu di sana ada kain yang tertutup gambar (makhluk bernyawa yang memiliki ruh, pen). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau langsung merubah warnanya dan menyobeknya. Setelah itu beliau bersabda,
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الذِّيْنَ يُشَبِّهُوْنَ ِبخَلْقِ اللهِ
Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah yang menyerupakan ciptaan Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan ini adalah lafazhnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An Nasa’i dan Ahmad)
Syarat kesembilan: pakaian tersebut berasal dari bahan yang suci dan halal.
Syarat kesepuluh: pakaian tersebut bukan pakaian kesombongan.
Syarat kesebelas: pakaian tersebut bukan pakaian pemborosan .
Syarat keduabelas: bukan pakaian yang mencocoki pakaian ahlu bid’ah. Seperti mengharuskan memakai pakaian hitam ketika mendapat musibah sebagaimana yang dilakukan oleh Syi’ah Rofidhoh pada wanita mereka ketika berada di bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa pengharusan seperti ini adalah syi’ar batil yang tidak ada landasannya.
Inilah penjelasan ringkas mengenai syarat-syarat jilbab. Jika pembaca ingin melihat penjelasan selengkapnya, silakan lihat kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Kitab ini sudah diterjemahkan dengan judul ‘Jilbab Wanita Muslimah’. Juga bisa dilengkapi lagi dengan kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yang ditulis oleh Syaikh Amru Abdul Mun’im yang melengkapi pembahasan Syaikh Al Albani.

Terakhir, kami nasehatkan kepada kaum pria untuk memperingatkan istri, anggota keluarga atau saudaranya mengeanai masalah pakaian ini. Sungguh kita selaku kaum pria sering lalai dari hal ini. Semoga ayat ini dapat menjadi nasehatkan bagi kita semua.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua dalam mematuhi setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.
Alhamdullillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat.

Rujukan:
1. Faidul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, Mawqi’ Ya’sub, Asy Syamilah
2. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Al Islamiyah-Amman, Asy Syamilah
3. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh ‘Amru Abdul Mun’im Salim, Maktabah Al Iman
4. Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, Ibnul Jauziy, Darun Nasyr/Darul Wathon, Asy Syamilah
5. Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
Read More

Wanita yang Berpakaian Tapi Telanjang

Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini. Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.

Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.

Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun
An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.
Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)
Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)
Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.
Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.
Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.
Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)
Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.

Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini
Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?
An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!
Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Mulailah dari sekarang untuk merubah diri menjadi yang lebih baik ....
Read More

3 Gaya Wanita yang Tidak Mencium Bau Surga

Ada tiga gaya, penampilan atau mode yang membuat wanita muslimah diancam tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian. Di antara penampilan yang diancam seperti itu adalah gaya wanita yang berpakaian namun telanjang. Yang kita saksikan saat ini, banyak wanita berjilbab atau berkerudung masih berpenampilan ketat dan seksi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).

Tiga Sifat Wanita yang Tidak Mencium Bau Surga
Dalam hadits di atas disebutkan beberapa sifat wanita yang diancam tidak mencium bau surga di mana disebutkan,
وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ
Yaitu para wanita yang: (1) berpakaian tetapi telanjang, (2) maa-ilaat wa mumiilaat, (3) kepala mereka seperti punuk unta yang miring.
Apa yang dimaksud ketiga sifat ini?
Berikut keterangan dari Imam Nawawi dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim.

(1) Wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Ada beberapa tafsiran yang disampaikan oleh Imam Nawawi:
1- wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
2- wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan menyingkap sebagian lainnya.
3- wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menampakkan warna badannya.
(2) Wanita yang maa-ilaat wa mumiilaat
Ada beberapa tafsiran mengenai hal ini:
1- Maa-ilaat yang dimaksud adalah tidak taat pada Allah dan tidak mau menjaga yang mesti dijaga. Mumiilaat yang dimaksud adalah mengajarkan yang lain untuk berbuat sesuatu yang tercela.
2- Maa-ilaat adalah berjalan sambil memakai wangi-wangian dan mumilaat yaitu berjalan sambil menggoyangkan kedua pundaknya atau bahunya.
3- Maa-ilaat yang dimaksud adalah wanita yang biasa menyisir rambutnya sehingga bergaya sambil berlenggak lenggok bagai wanita nakal. Mumiilaat yang dimaksud adalah wanita yang menyisir rambut wanita lain supaya bergaya seperti itu.

(3) Wanita yang kepalanya seperti punuk unta yang miring
Maksudnya adalah wanita yang sengaja memperbesar kepalanya dengan mengumpulkan rambut di atas kepalanya seakan-akan memakai serban (sorban). (Lihat Syarh Shahih Muslim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 14: 98-99).

Mode Wanita Saat Ini …
Ada beberapa gaya yang bisa kita saksikan dari mode wanita muslimah saat ini yang diancam tidak mencium bau surga berdasarkan hadits di atas:
1- Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga kelihatan warna kulit.
2- Wanita yang berpakaian tetapi telanjang karena sebagian tubuhnya terbuka dan lainnya tertutup.
3- Wanita yang biasa berhias diri dengan menyisir rambut dan memakerkan rambutnya ketika berjalan dengan berlenggak lenggok.
4- Wanita yang menyanggul rambutnya di atas kepalanya atau menambah rambut di atas kepalanya sehingga terlihat besar seperti mengenakan konde (sanggul).
5- Wanita yang memakai wangi-wangian dan berjalan sambil menggoyangkan pundak atau bahunya.
Semoga Allah memberi petunjuk pada wanita muslimah untuk berpakaian yang sesuai petunjuk Islam. Karena penampilan seperti ini yang lebih menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.

  Lihat pembahasan selengkapnya mengenai hadits di atas di tulisan Rumaysho.Com: Wanita yang Berpakaian Tetapi Telanjang. Juga baca ulasan: Pakaian Yang Mesti Engkau Pakai.
Read More

Kamis, 14 November 2013

KENIKMATAN

Ada kalanya menjadi bagus mengungkit suatu kenikmatan, yaitu ketika kenikmatan itu dikufuri. Setiap nikmat mempunyai pembuka dan penutup, pembukanya adalah kesabaran dan penutupnya adalah kemalasan. Tidak ada kenikmatan didunia ini yang lebih besar daripada panjang umur lagi takwa. (Ali bin Abi Thalib r.a)
Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya), kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu [39:Az Zumar:8]
Orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu [03:Al Imran:135]
Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas [39:Az Zumar:10]
Sifat-sifat yang baik itu tidak  dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar [41:Fushshilat:35]
Lemparkanlah olehmu berdua kedalam Neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, (*)yang sangat enggan melakukan kebajikan [50:Qaaf:24~25]
Zakariya berkata: `Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua`. (*)Tuhan berfirman: `Demikianlah`. Tuhan berfirman: `Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (diwaktu itu) belum ada sama sekali` [19:Maryam:8~9]
Rasulullah Saw bersabda: Menyebut-nyebut nikmat Allah merupakan perbuatan syukur dan meninggalkannya berarti kufur (ingkar kepada nikmat Allah). Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka ia tidak pula akan mensyukuri nikmat yang banyak. Barangsiapa tidak berterima kasih pada orang lain, berarti ia tidak akan pula berterima kasih pada Allah SWT [HR. Baihaqi]
Rasulullah Saw bersabda: Memuji Allah karena mendapatkan suatu nikmat merupakan jaminan keamanan dari lenyapnya nikmat tersebut [HR. Ad Dailami]
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya hanya Allah-lah yang berhak mengambil dan hanya Dia-lah yang berhak memberi, segala sesuatu telah digariskan ketentuannya disisi-Nya, maka bersabarlah dan harapkanlah pahala-Nya [HR. Ibnu Majah]
Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang berpuas hati dengan apa yang ada maka Allah mencukupkannya. Siapa yang bersabar maka Allah akan menganugrahkan kesabaran. Seseorang itu tidak dikaruniakan sesuatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas selain oleh sabar [HR. Bukhari, Muslim]
Rasulullah Saw bersabda: Hal yang paling aku takutkan atas umat-ku adalah perut besar (banyak makan), banyak tidur, malas dan lemah keyakinannya [HR. Ad Duruquthni]
Rasulullah Saw bersabda: Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya, dan sejahat-jahat manusia adalah orang yang panjang umurnya dan buruk amalnya [HR. Ahmad]
Rasulullah Saw bersabda: Tercatat dalam Kitab Taurat: Barangsiapa menghendaki diperpanjang umurnya, dan ditambah terus rezekinya, maka hendaknya ia menghubungkan silaturahmi [HR. Al Hakim]
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya kebahagiaan yang mencakup semua kebahagiaan adalah umur panjang lagi taat kepada Allah [HR. Al Khatib] .
Kebahagiaan itu hanya dapat dicapai dan dinikmati oleh orang yang mengikuti satu sisi dari Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus), sebagai peninggalan Rasulullah Saw untuk umatnya, karena sisi yang satunya adalah surga. `Dan pasti kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus`(04:an Nisaa’:68). Kebahagiaan orang yang senatiasa berjalan diatas Shirathal Mustaqim adalah bahwa dia selalu merasa tenang dengan akhir yang baik dari setiap permasalahan yang dihadapinya, merasa yakin bahwa tempat kembalinya adalah tempat yang baik, percaya sepenuhnya terhadap janji Rabb-nya, rela dengan qadha-Nya, dan mengendalikan langkahnya untuk tetap dijalan itu. Dan menyadari bahwa orang yang  menunjukkan jalan ini adalah seorang yang tidak berbicara berdasarkan nafsu, yang ucapannya adalah hujjah, yang terjaga dari keusilan setan dan keteledoran manusia.
`Bagi manusia ada Malaikat-Malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah`(13:Ar Ra’d:11). Dalam penitiannya diatas jalan ini, hamba akan mendapatkan kebahagiaan. Dia tahu bahwa dirinya memiliki Ilah, didepannya ada suri tauladan, ditangannya ada kitab suci, didalam hatinya ada cahaya kebenaran, dan didalam nuraninya ada pemberi nasehat. Dengan demikian ia menjadi sosok yang berjalan menuju kenikmatan, yang berbuat dalam ketaatan, dan yang berusaha ke arah kebaikan.
Jalan keimanan adalah jalan yang ada di dunia fana yang memiliki cakar-cakar pencengkeram berupa syahwat. Sedang jalan ukhrawi yang berada diatas jahannam, memiliki duri-duri yang sangat tajam. Dan barangsiapa mampu melampaui jalan ini dengan keimanannya, dia akan mampu melampaui jalan ukhrawi sesuai dengan keyakiannya. Dan jika seorang hamba berhasil mendapatkan hidayah jalan yang lurus ini maka akan lenyap semua kesulitan, kekecewaan dan duka citanya. (`Aidh Al-Qarni)
Keuntungan yang hakiki adalah keuntungan yang  tidak hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga menguntungkan hamba-hamba Allah lainnya. Dan usahankanlah apa yang menjadi nikmat kita, tidak menjadi musibah bagi orang lain. (`Pustaka)
Jadikan  ketaatan dan pujian kepada Allah sebagai kewajiban dan jika hal ini dilakukan tanpa mengalami kesulitan apa-apa. Maka dunia menjadi berkah bagi mereka dan memberikan nikmat kepada mereka. Dan apabila mereka melihat dan mengalami sesuatu, maka yang mereka lihat dan alami sebagai perbuatan Allah. Maka Allah menjadikan mereka  `Pasak Bumi`, yaitu seperti gunung yang berdiri megah dan agung diantara hamba-hamba Allah lainnya. (`Pustaka)
Manusia selalu berbohong dengan membicarakan kesyukuran tetapi tidak melaksanakan kesyukuran dan manusia selalu membicarakan cobaan, tetapi tidak mensyukuri cobaan dari Allah, maka Allah SWT berfirman: `Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah`. (`Pustaka)
Apabila kehilangan kenikmatan dunia harus rela dan menyerah terhadap hukum-hukum Allah, kemudian apabila dihinakan orang bertahanlah didalam kesabaran, dengan demikian seharusnya terasa ringan cobaan yang menimpa, karena menyadari bahwa Allah-lah yang menguji, maka bukalah pintu kesadaran dan pengertian bahwa Allah sedang memberi pengajaran bagaimana menetapkan sebaik-baik pilihan takdir kepada hamba-Nya. (`Pustaka)
Read More

HAWA NAFSU

Dengan kelemah lembutan kebutuhan akan dapat diperoleh dan dengan berhati-hati akan mudah segala hal yang dikehendaki. Orang yang berpikir sebelum melakukan sesuatu memliki kecenderungan untuk berhasil dan sebaliknya segala sesuatu yang dilakukan dengan tergesa-gesa kecenderungannya adalah kegagalan.
Barangsiapa yang dalam urusannya berada pada posisi tidak memikirkan akibatnya, maka ia telah menghadapkan dirinya pada musibah yang besar. Tahanlah diri dari suatu jalan jika khawatir akan tersesat, sebab menahan diri ketika ragu adalah lebih baik. Diantara taufik-taufik itu adalah berhentilah ketika ragu. Pelarangan dari apa yang menjadikan mata berkeinginan memandangnya, maka disitulah terletak pahala dan siksa.
Orang yang baik adalah orang yang mampu mengatur nafsunya sesuai keinginannya dan menolaknya dari keburukan dan mencegah nafsu yang bertentangan dengan akal, yaitu dengan menentang keinginannya, dengan demikian sampailah pada derajat orang baik.
Sesungguhnya nafsu adalah permainan, maka jika datang permainan maka hilanglah kesungguhan, sedang agama tidak pernah berdiri tegak dan dunia tidak akan menjadi baik kecuali dengan kesungguhan. Jika meninggalkan suatu yang benar, berarti akan sampai pada suatu yang salah.
Kepada Allah-lah berharap, Dia memperbaiki apa yang rusak dari hati,  sebab hati berada  ditangan-Nya  dan  Dia  mengatur sesuai dengan yang  dikehendaki-Nya. Hendaklah seseorang diantara kalian menjauhkan diri dari aib orang lain yang diketahuinya karena ia mengetahui aib dirinya sendiri.
Hendaklah menyibukkan diri dengan bersyukur karena kesehatan yang diberikan Allah, sementara orang lain diberi cobaan dengan ditimpa penyakit. Jangan mencela orang yang berdosa, bisa saja dosa itu sudah diampuni-Nya dan jangan merasa aman karena melakukan dosa kecil, karena bisa jadi akan diazab karena dosa kecil itu. (Ali bin Abi Thalib r.a)
Kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui [05:Al Maaidah:54]
Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa [21:Al Anbiyaa’:37]
Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa [17:Al Israa’:11]
Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. (*)Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat mem bedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu [34:Saba’:20~21]
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa  yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) [03:Al Imran:14]
Iblis berkata: `Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (*)kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis diantara mereka` [15:Al Hijr:39~40]
Hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa [05:Al Maaidah:8]
Jika kamu melahirkan apa yang ada didalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu [02:Al Baqarah:284]
Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum  yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) [49:Al Hujuraat:11]
Rasulullah Saw bersabda: Ada tiga macam orang yang berbincang-bincang dibawah naungan Arasy dengan penuh rasa aman, sedangkan pada saat itu manusia berada dalam penghisaban, yaitu: Seseorang yang tidak takut akan celaan orang yang mencela demi melaksanakan perbuatan Allah, Seseorang yang tidak pernah memanjangkan tangannya kepada barang yang diharamkan oleh Allah SWT, Seseorang yang tidak pernah memandang hal-hal yang diharamkan oleh Allah baginya [HR. Al Ashbahani]
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya seorang hamba mangatakan kalimat yang diridhoi oleh Allah, padahal tidak memperhatikannya (tidak menyadarinya), maka Allah tetap mengangkat berkat kalimat tersebut beberapa derajat (pahala) untuknya. Dan sesungguhnya seorang hamba mengatakan kalimat yang dimurkai oleh Allah sedangkan ia tidak memperhatikannya (tidak menyadarinya), hal tersebut tetap akan  menjerumus kannya ke dalam neraka [HR. Ahmad]
Rasulullah Saw bersabda: Ingatlah, aku akan memberitahukan kalian ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi tubuh kalian, yaitu diam dan berakhlak yang baik [HR. Abud Dunya]
Rasulullah Saw bersabda: Jaminlah untuk-ku enam perkara dari kalian, niscaya kujamin surga untuk kalian, Apabila kalian berbicara jujurlah, Berjanji tepatilah, Diberi amanat sampaikanlah, Memelihara kemaluan kalian, Tundukkan pandangan mata kalian, Mencegah kedua tangan kalian [HR. Baihaqi]
Rasulullah Saw bersabda: Kelak sesudah-ku, benar-benar umat-ku akan diselimuti oleh fitnah-fitnah yang seakan-akan gelapnya malam, dizaman itu seseorang dipagi hari dalam keadaan mukmin, kemudian disore harinya ia menjadi kafir, banyak kaum yang menjual agamanya dengan harta duniawi yang sedikit [HR. Al Hakim]
Rasulullah Saw bersabda: Fitnah akan melekat dihati manusia bagaikan tikar yang dianyam secara tegak menegak antara satu sama lain. Mana-mana hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga mana hati yang tidak dihinggapinya, akan terlekat padanya bintik-bintik putih hingga hati tersebut terbagi dua. Sebagiannya menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Maka sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bejana tembaga berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran, segala-galanya adalah mengikuti keinginan [HR. Bukhari, Muslim]
Rasulullah Saw bersabda: Beruntunglah orang yang sibuk dengan aib-nya sendiri, tidak memperdulikan aib-aib orang lain, lalu ia menafkahkan kelebihan dari hartanya dan menahan mulutnya [HR. Ad Dailami]
Rasulullah Saw bersabda: Ada dua nikmat yang selalu memperdaya kebanyakan manusia, yaitu sehat dan waktu senggang [HR. Bukhari]
Rasulullah Saw bersabda: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra berkata: Ketika diturunkan ayat: `Siapa yang melakukan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu`. Orang-orang Islam merasa amat sedih, tetapi kemudian Rasulullah Saw bersabda: `Permudahlah dan jangan terlalu berlebih-lebihan serta berusahalah melakukan yang benar. Setiap musibah yang menimpa orang-orang muslim adalah suatu pelebur kesalahan biarpun hanya sekedar tersusuk duri` [HR. Bukhari, Muslim]
Rasulullah Saw bersabda: Ada dua orang pria yang sudah seperti saudara, yang seorang sering berbuat dosa dan yang lainnya tekun beribadah, maka yang tekun beribadah selalu menganggap yang lain bergelimang dosa, dan dia mengatakan pada yang lain, `Kurangilah!` dan yang tekun beribadah berkata: `Demi Alah, Allah tidak mengampunimu atau Allah tidak memasukkan kamu ke surga`. Allah menggenggam roh keduanya dan berfirman pada yang tekun: `Apakah kamu mengetahui Aku?, atau kamu berkuasa atas semua yang ditangan-Ku?`. Allah berfirman pada orang yang bergelimang dosa: `Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku`. Dan Allah berfirman pada yang lain: `Kalian bawa dia ke neraka` [HR. Abu Daud]
Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang dihitung pada hari kiamat niscaya dia akan disiksa. Aku bertanya: Bukankah Allah SWT telah  berfirman: ` Maka   dia   akan  dihisab dengan mudah dan ringan?`. Beliau bersabda: `Itu bukannya perhitungan, itu hanyalah pembentangan kepada orang-orang yang dihitung pada hari kiamat dan dia akan diazab` [HR. Bukhari, Muslim]
Manusia yang paling sengsara adalah mereka yang menjalani kehidupan ini dengan hanya mengikuti hawa nafsu, dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya. Pada kondisi yang demikian, manusia akan merasa setiap peristiwa menjadi sedemikian berat membebani, seluruh sudut kehidupan menjadi makin gelap gulita, kedengkian dan kebencian mudah bergolak didalam hatinya.
Dan akibatnya, ia akan hidup didalam dunia khayalan dan ilusi. Ia akan memandang setiap hal di dunia adalah musuhnya, ia menjadi mudah curiga dan merasa orang disekelilingnya sedang berusaha menyingkirkan dirinya, dan ia akan selalu dibayangi rasa was-was bahwa dunia akan merenggut apa yang ada padanya.
Emosi yang tidak terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan dan meresahkan diri. Dalam keadaan marah, seluruh isi hatinya tertumpah ruah dan ia cenderung berbuat sekehendak nafsunya.
Banyak orang yang tidak mampu melihat indahnya kehidupan, mereka hanya membuka matanya untuk uang, uang dan uang semata. Maka, meskipun ia berjalan melewati taman yang indah, bunga-bunga yang cantik mempesona mereka sama sekali tidak tertarik dengan semua itu. Sesungguhnya ia harus menggunakan uang itu sebagai sebuah sarana untuk membangun keluarga bahagia yang dipenuhi kegembiraan.
Kehidupan ini laksana permainan yang harus diwaspadai. Ia dapat menyulut kekejian, kepedihan dan bencana. Jika demikian sifat-sifat dunia, maka mengapa   harus   begitu   diperhatikan  dan  ditangisi ketika gagal diraih. Keindahan hidup didunia ini acapkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana, dan apapun yang dilahirkan oleh dunia ini senantiasa berakhir dengan ketiadaan. Orang yang paling bergelimang dengan harta merupakan orang yang paling merasa terancam.
Perhatikanlah orang-orang munafik, betapa rendahnya semangat dan tekad mereka. `Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)`(33:Al Ahzab:13). `Kami takut akan mendapat bencana`(05:Al Maaidah:52). `Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya`(33:Al Ahzab:12). Kecemasan dan pengetahuan mereka hanya sebatas soal hidup enak, rumah yang nyaman, kendaraan yang terbaru, pakaian indah dan makanan yang lezat. Betapa banyak manusia yang hidupnya dari pagi hingga sore, hanya disibukkan oleh kecemasan dan kegelisahan. Keadaan inilah sebenarnya merupakan bencana besar bagi mereka. Letakkan persoalan sesuai dengan porsi dan kedudukannya, jangan melakukan kezaliman untuk mencapai tujuan-tujuan karena rasa cemas dan kegelisahan yang pada akhirnya hanya berupa angan-angan kosong. (`Aidh Al-Qarni)
Hawa nafsu bagaikan lautan yang tidak pernah puas dengan menelan air dari sungai-sungai, sementara hawa nafsu manusia lebih dalam dan lebih luas dari lautan, maka jihad yang paling besar bagi hamba Allah adalah berperang melawan hawa nafsunya. Orang yang mempunyai akal yang sempurna dan mau berpikir  mengenai hakekat kehidupan akan mengerti bahwa dunia  adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang-orang kafir. Maka hakekat kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat yang merupakan karunia dari-Nya. (Pustaka)
Pencarian, kecintaan dan kerinduan kepada Allah adalah jalan untuk mencapai takdir yang baik, karena setan selalu berkeluh kesah tentang takdirnya :`Jika Allah telah mentakdirkan kejahatan itu terjadi, maka aku tidak berkuasa untuk merubahnya dan menjadikannya kebaikan. Demikian pula sebaliknya, sesuatu kebaikan itu terjadi, maka akupun tidak kuasa me rubahnya menjadi kejahatan, maka sesungguhnya apakah yang menjadi kekuasaanku terhadap orang-orang yang beriman?. (Pustaka)
Kehidupan itu bagaikan awan, karena awan pasti bergeser. Setiap manusia akan keluar dari dunia ini seakan tidak pernah masuk ke dalamnya. Maka berhati-hatilah, karena panah kematian akan datang tanpa diketahui. Manusia adalah penunggang punggung usia, semakin menjauhi dunia dan mendekati kubur. Dan bagi yang memilih dunia, maka dia akan beristirahat tanpa pahala, maka takutlah pada kelalaian, karena lalai adalah tipuan setan. (Pustaka)
Hukum di dunia ini fana, segalanya akan berakhir, begitu pula kecantikan yang akan terus memudar. Kecantikan yang hakiki adalah kecantikan nurani dan kemuliaan pribadi, bahkan akan menjadi bekal kita menghadapi kehidupan akhirat yang kekal. Maka waspadalah terhadap rupa dan harta dunia. (Pustaka)
Bilamana seseorang mencintai suatu  perbuatan  buruk, kemudian perbuatan itu membutakan dan memabukkan hatinya, berarti hawa nafsu telah memutuskan akalnya dan dunia telah mematikan hatinya, sementara otaknya penuh dengan pikiran untuk memenuhi hasrat buruknya, akibatnya ia menjadi budak nafsu dan budak dari setiap orang yang turut menyuburkan nafsunya, kemana saja hawa nafsu itu berpaling maka kesanalah ia berpaling, kemana saja hawa nafsu itu bergerak maju maka kesanalah ia bergerak maju, maka ia akan terlihat sebagai jasad tanpa ruh atau amalnya bagaikan ukiran diatas air. (Pustaka)
Wahai hamba Allah, hamba yang paling disukai-Nya adalah orang yang diberi-Nya kemampuan bertindak melawan hawa nafsu, sehingga bathinnya larut dalam kesedihan karena dihinggapi rasa takut kepada-Nya. Wahai hamba Allah, berhati-hatilah dengan waktu, karena waktu akan memperlakukan orang-orang yang hidup sama dengan yang telah pergi, waktu yang berlalu tidak akan kembali dan apa yang ada didalamnya tidak akan kekal. (Pustaka)
Read More

AGAMA ISLAM

Islam adalah penyerahan, penyerahan adalah keyakinan, keyakinan adalah pembenaran, pembenaran adalah pengakuan, pengakuan adalah pelaksanaan dan pelaksanaan adalah amal. Agama bukanlah pendapat tetapi dengan mengikuti. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi daripada Islam. Islam adalah agama Allah yang dipilih-Nya untuk diri-Nya, dikembangkan dibawah pengawasan-Nya, dimurnikan-Nya untuk sebaik-baik makhluk-Nya dan ditegakkan tiang-tiangnya diatas cinta-Nya.
Dia menundukkan agama-agama lain dengan keperkasaan-Nya, merendahkan semua umat dengan keluhuran-Nya, menghinakan musuh-musuh-Nya dengan kemulian-Nya dan merobohkan pilar-pilar kesesatan dengan kekuatan-Nya. Maka barangsiapa yang mengikuti agama selain agama Islam telah pastilah kemalangannya, akan terputus buhul tali-Nya dan akan besar ketergelincirannya. Agama adalah tanda kemuliaan dan selamanya kemuliaan dimuliakan dengan agama dan pokok agama adalah keyakinan.
Shalat untuk membersihkan diri dari kemusyrikan. Puasa sebagai ujian keikhlasan seorang hamba Allah. Haji sebagai sarana pendekatan diri kepada agama. Zakat sebagai sebab datangnya rezeki. Jihad untuk kemuliaan Islam. Mengajak kepada kebaikan sebagai kemaslahatan untuk orang banyak Melarang perbuatan mungkar untuk mencegah kejahatan orang-orang bodoh. Menyambung silaturrahim untuk menambah bilangan. Shalat yang membedakan orang beriman dan orang kafir, dusta adalah ketika ia meninggalkan shalat. Dirikan shalat Subuh ketika hari masih gelap, niscaya akan bertemu dengan Allah dengan wajah yang putih. Jagalah urusan shalat, perbanyaklah dan dekatkan dirimu kepada Allah dengan shalat. Barangsiapa yang tidak mengambil persiapan shalat sebelum tiba waktunya maka ia tidak menghormati shalat.
Puasa adalah ibadah seorang hamba dengan penciptanya, tidak ada yang mengetahui pembalasannya kecuali Dia. Puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai Allah SWT. Sesungguhnya hari raya Idul Fitri adalah bagi orang yang diterima ibadah puasanya oleh Allah dan diberi pahala shalat malamnya. Dan hari dimana setiap hari yang didalamnya Allah tidak dimaksiati maka itu adalah hari raya bagi pelakunya.
Haji diwajibkan oleh-Nya ke Baitul Haram, kiblat bagi manusia, sebagai tanda kerendahan diri terhadap keagungan-Nya, ketundukan diri kepada kemuliaan-Nya, Dia memilih dari makhluk-Nya yang mendengar panggilan-Nya menuju tanah yang suci lagi aman dan menginginkan perlindungan-Nya.
Zakat yang dikeluar kan dengan jiwa yang baik merupakan penghalang bagi api Neraka. Membentengi harta yang dimiliki. Tidak ada seorang fakirpun yang lapar kecuali si kaya telah menahan hartanya. Zakat merupakan pengurangan dan juga penambahan.
Jihad adalah salah satu dari pintu-pintu Surga, pakaian ketakwaan, perisai yang kuat, benteng yang kokoh dan dibukakan kepada wali-wali-Nya. Berjihadlah dengan tangan, ucapan dan hati. Kebaikan yang dilalaikan akan mengakibatkan diserahkan-Nya kalian kepada orang-orang yang paling buruk, kemudian kalian memohon kepada-Nya dan tidak akan dikabulkan-Nya. Ingkari kemungkaran dengan lidah maupun tanganmu. Jangan kalian menganggap lambatnya ancaman-Nya karena Dia tidak tahu, sungguh Allah menghukum umat terdahulu karena mereka meninggalkan Amr Ma’ruf Nahy Munkar. (Ali bin Abi Thalib r.a)
Rasulullah Saw bersabda : Perkara ini akan menjangkau apa yang dijangkau oleh malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan sebuah rumah disatu desa maupun kota melainkan akan dimasuki oleh agama ini, yang akan memuliakan orang yang mulia dan kemuliaan yang Allah memuliakan dengannya agama Islam dan suatu kehinaan yang Allah menghinakan dengannya kekafiran [HR. Ahmad]
Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah niscaya Allah menjadikannya memahami masalah agama [HR. Muawiyyah ra]
Rasulullah Saw bersabda: Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka dia hendaklah mencegah kemungkaran itu dengan tangannya yaitu kuasanya. Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman [HR. Bukhari, Muslim]
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku [21:Al Anbiyaa’:92]
Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah hanyalah Islam [03:Al  Imran:19]
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi [03:Al  Imran:85]
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) [02:Al Baqarah:256]
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya,   demikian  pula   Ya’qub.   (Ibrahim ber kata): `Hai anak-anakku! sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam` [02:Al Baqarah:132]
Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu [02:Al Baqarah:143]
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu [02:Al Baqarah:208]
Telah Ku-sempurnakan untuk kamu agama-mu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu(05:Al Maaidah:3). Sungguh menderita orang yang tidak memahami Islam dan tidak mendapat petunjuk untuk memeluknya. Islam adalah sebuah kabar yang agung. Dan seruan kepadanya hendaknya dengan merupakan sesuatu yang bernilai tinggi, sistematis dan penuh daya tarik. Sebab kebahagiaan manusia tidak akan didapat kecuali dalam agama yang benar dan abadi. Nilai manusia terdapat dalam perbuatan baik manusianya yang berarti ilmu pengetahuan,  adab  kesopanan,   ibadah,   kedermawanan serta akhlak dan moralitasnya adalah nilai dirinya yang sebenarnya dan bukan wajah, gaya dan kedudukannya. Manusia itu dinilai sesuai semangat, keperdulian, usaha keras dan pengorbanannya untuk mencapai posisinya, dan kemulian itu tidak akan didapat dengan Cuma-Cuma. Kebahagiaan hanya dapat dicapai dan dinikmati oleh orang yang mengikuti satu sisi jalan yang lurus (Islam), dan satu sisi lainnya adalah surga.
`Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus`(04:An Nisaa’:68). Kebahagiaan orang yang senantiasa berjalan di Shirathal Mustaqim adalah dia selalu merasa tenang dengan akhir yang baik dari setiap permasalahan yang dihadapinya, merasa yakin bahwa tempat kembalinya adalah tempat yang baik, percaya sepenuhnya terhadap janji Rabb-nya, rela dengan qadha-Nya, dan mengendalikan langkahnya untuk tetap berada dijalan ini. Dia sadar bahwa ada seorang yang menunjuk kan jalan ini yang berbicara tidak berdasarkan nafsu, tidak mengekor orang-orang yang menyimpang, yang ucapannya adalah hujjah, yang terjaga dari keusilan setan dan keteledoran manusia.
`Bagi manusia ada Malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan dibelakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah`(13:Ar Ra’d:11). Seorang hamba tahu bahwa ia memiliki Ilah, didepannya ada suri tauladan, ditangannya ada kitab suci, didalam hatinya ada cahaya kebenaran dan didalam nuraninya ada pemberi nasehat. Dengan demikian ia menjadi sosok yang berjalan menuju kenikmatan, yang berbuat dalam ketaatan, dan yang  berusaha kearah kebaikan.
`Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya`(06:Al An’aam:88). Wahai orang-orang yang bosan dengan kehidupan, yang tidak bergairah dengan kehidupan, yang hari-harinya sempit dan jalan nafasnya tersumbat, disana ada kemenangan yang nyata, pertolong an yang semakin dekat, jalan keluar dari kesempitan dan kemudahan setelah kesulitan, ada cita-cita yang indah, adamasa depan yang menjanjikan, dan ada janji yang pasti.
`(Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Alah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui`(30:Ar Ruum:6). Didalam kesempitan tersembunyi jalan keluarnya, dalam musibah yang sedang dihadapi ada jalan keselamatan, dari hal-hal yang tidak disukai ada kenikmatan dan kebaikan.
`Segala puji bagi allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami`(35:Faathir:34). Wahai manusia, sudah saatnya mengganti keraguan dengan keyakinan, penyelewengan dengan kebenaran, ketidak lurusan pikiran dan jalan dengan petunjuk. Sudah saatnya menyingkap kegelapan dengan fajar kebenaran, mengganti harapan yang pahit dengan keridhoan yang manis, dan cobaan yang gelap dengan cahaya yang menerangi segala kebohongan. Wahai manusia, dibalik ladang yang gersang terdapat tanah yang subur dengan rezeki yang melimpah ruah, diatas gunung yang terjal ada kebun yang subur, yang tidak perlu  siraman siraman hujan lebat, kebun  yang  memberikan  kabar  gembira,  harapan   yang baik.  Wahai  manusia, tenanglah karena anda sedang berurusan dengan Dzat yang Maha Berkuasa atas urusan-Nya, yang Maha Bijaksana atas hamba-hamba-Nya, yang Maha Pengasih terhadap makhluk-Nya, dan yang Maha Indah dalam segala pengaturan-Nya. Tenanglah, karena akhir dari perjalanan adalah kebaikan, hasilnya adalah kesenangan, dan penutupnya adalah kemuliaan. (`Aidh Al-Qarni)
Kewalian bukanlah pengasingan dari makhluk, akan tetapi kewalian adalah orang yang sanggup memberi isyarat-isyarat didalam masyarakat dan memelihara dirinya bersama jama’ah, karena mengharamkan istri, menjauhi daging dan pertapaan bukanlah milik agama Islam. (Pustaka)
Keselamatan adalah diam membisu kecuali dalam dzikir kepada-Nya. Menjauhi pergaulan dengan dengan orang-orang yang rendah budinya. Meyakini bahwa perhiasan kemiskinan adalah sabar dan perhiasan kekayaan adalah syukur. Meyakini tidak ada kehormatan melebihi Islam dan tidak ada kemuliaan yang melebihi takwa. Meyakini bahwa syafa’at yang paling berhasil adalah bertaubat kepada-Nya. Meyakini bahwa kesehatan jasmani adalah mahkota dunia dari karunia-Nya. (Pustaka)
Seorang ulama benar-benar harus memiliki ke-arifan, selain benar apa yang dikatakannya. Di awali dengan menampilkan bahwa Islam itu indah, mudah dan menyenangkan, agar timbul kecintaan tanpa paksaan, sehingga mereka dapat menikmati kebenaran. Ketidak arifan akan berakibat orang akan takut kepada Islam. (Pustaka)
Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berjuang dijalan-Nya merupakan sarana yang terbaik menuju puncak tertinggi dalam ke-Islaman. Beriman dengan ikhlas karena itulah watak yang adil, mendirikan shalat karena shalat adalah ampunan, membayar zakat karena zakat adalah penetapan hak, berpuasa pada bulan ramadhan adalah perisai dari api neraka, menjalankan Haji ke Baitullah dan Umrahnya karena keduanya mencuci dosa dan membasmi kemiskinan, menghormati kekerabatan karena perbuatan ini akan meningkatkan kekayaan dan memanjangkan usia, memberikan sedekah secara rahasia untuk membunuh riya’, memberi sedekah secara terbuka untuk melindungi diri dari kematian yang buruk. (Pustaka)
Read More

Contact Us

So you think we’re the right folks for the job? Please get in touch with us, we promise we won't bite!



Distributed By Blogger Themes | Designed By Seo Blogger Templates